Indonesian English

Dalam rangka menyosialisasikan informasi terkini terkait standardisasi dan akreditasi kepada Lembaga Penilaian Kesesuaian (LPK), BSN/KAN mengadakan Pertemuan Teknis Laboratorium dan Lembaga Inspeksi yang ke-4 di tahun 2017 pada Kamis 3 Agustus 2017 di Hotel Novotel, Balikpapan. Sebelumnya, Pertemuan Teknis Laboratorium dan Lembaga Inspeksi telah dilaksanakan di Medan pada bulan Maret, di Bandung pada bulan April, dan di Surabaya pada bulan Mei 2017. Pertemuan ke-4 bertema “Akreditasi Memastikan Kompetensi dan Membangun Kepercayaan” ini dihadiri oleh 100 peserta perwakilan LPK yang terdiri dari Laboratorium Penguji, Laboratorium Kalibrasi, Laboratorium Medik, Lembaga Inspeksi, dan Penyelenggara Uji Profisiensi yang telah diakreditasi KAN yang berlokasi di daerah Kalimantan Timur dan sekitarnya.



Dalam kesempatan ini, Sekretaris Jenderal Komite Akreditasi Nasional (KAN), Kukuh S Achmad menekankan kembali mengenai amanah yang termaktub dalam UU No 20 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian, bahwa standardisasi, akreditasi bertujuan untuk melindungi masyarakat Indonesia dalam aspek kesehatan, keselamatan, keamanan, dan lingkungan hidup serta untuk peningkatan daya saing bangsa. ”Kita duduk seharian di laboratorium karena kita ingin standardisasi, akreditasi, memastikan produk-produk di Indonesia aman digunakan di Indonesia,” ujarnya. Selain untuk meindungi konsumen, kita juga ingin agar laboratorium, lembaga inspeksi, SNI dapat mendorong daya saing di dunia global, tambahnya.

Kukuh juga menjelaskan bahwa laboratorium dan lembaga inspeksi berperan besar dalam penerapan SNI. “Lembaga penilaian kesesuaian, termasuk di dalamnya laboratorium dan lembaga inspeksi harus kompeten, harus diakreditasi oleh badan akreditasi, dalam hal ini adalah Komite Akreditasi Nasional”, ujarnya.

Saat ini, terdapat 205 SNI yang sudah diberlakukan wajib. SNI dapat diberlakukan waib oleh pemerintah terkait bila terkait dengan keamanan, keselamatan, kesehatan, dan pelestarian lingkungan hidup. Sebelum SNI diberlakukan wajib, ada beberapa petimbangan yang harus diperhatikan, salah satunya ialah ketersedian laboratorium.

Dalam pertemuan teknis ini, Direktur Akreditasi Laboratorium dan Lembaga Inspeksi, Dede Erawan memaparkan syarat dan aturan akreditasi. Akreditasi diberikan kepada laboratorium dan lembaga inspeksi yang memiliki status hukum, memenuhi KAN 01 (syarat dan aturan Akreditasi Laoratorium dan Lembaga Inspeksi), membayar biaya yang berkaitan dengan akreditasi, serta memiliki kompetensi yang diperlukan untuk menjalankan sistem manajemen dan kompetensi teknis.



Jika KAN tidak memberikan akreditasi kepada laboratorium/lembaga inspeksi, KAN akan menginformasikan alasannya. Laboratorium/lembaga inspeksi diberi kesempatan untuk mengajukan banding terhadap keputusan tsb. Banding harus diajukan secara tertulis, selambat-lambatnya 1 bulan sejak tanggal keputusan KAN, dan ditujukan kepada Ketua KAN disertai bukti dan alasan yang benar dan dapat diterima. “KAN, bila perlu, akan membentuk Panitia Banding yang beranggotakan personel yang kompeten dan tidak terlibat dalam proses akreditasi laboratorium/lembaga inspeksi yang mengajukan banding," Dede menjelaskan.

Kemudian, terkait penggunaan logo KAN, Dede menjelaskan bahwa setiap laboratorium/lembaga inspeksi yang sudah diakreditasi KAN, berhak mencantumkan logo KAN dalam sertifikat yang diterbitkan. Yang perlu diperhatikan bersama, lanjutnya, laboratorium/lembaga inspeksi yang telah diakreditasi oleh KAN dilarang menerbitkan sertifikat/laporan hasil uji, kalibrasi dan/atau inspeksi yang memuat simbol akreditasi KAN diluar ruang lingkup akreditasinya, sesuai UU No. 20 Tahun 2014.

 ”Jumlah parameter yang diakreditasi minimum 60% dari keseluruhan parameter yang dituangkan dalam suatu sertifikat/laporan pengujian, kalibrasi atau inspeksi, dan parameter yang tidak diakreditasi harus diberi tanda” jelas Dede.



Dede pun memaparkan rencana perubahan atau revisi standar persyaratan akreditasi laboratorium ISO/IEC 17025 pada akhir tahun 2017. “Salah satu perbedaannya adalah standar ini mempersyaratkan laboratorium untuk merencanakan dan mengimplementasikan tindakan untuk mengatasi risiko dan memanfaatkan peluang, sebagai dasar untuk meningkatkan efekivitas sistem manajemen mutu, mencapai hasil yang lebih baik dan mencegah dampak negatif. Lab bertanggung jawab menetapkan risiko dan peluang yang harus diperhatikan,” jelas Dede.

Manajer Akreditasi Lembaga Inspeksi, Esti Premati turut menyampaikan materi informasi terkait akreditasi, diantaranya dokumen akreditasi, kebijakan uji profisiensi KAN, serta informasi lain. “Proses akreditasi dihitung sejak tanggal kontrak, dan proses tidak boleh lebih dari 12 Bulan,” jelas Esti.


Di akhir acara, para peserta antusias menyampaikan pertanyaan ke para narasumber dalam sesi diskusi panel. Turut menjadi narasumber dalam diskusi panel ini adalah Kepala Bidang Akreditasi Laboratorium Kalibrasi, Dian Asriani. (ald-Humas)

*Materi pertemuan teknis laboratorium dan lembaga inspeksi, Balikpapan 3 Agustus 2017

Berita

PAC Memperkuat Implementasi Akreditasi Lembaga Sertifikasi Person Berdasarkan ISO/IEC 17024

PAC Memperkuat Implementasi Akreditasi Lembaga Sertifikasi Person 

Berdasarkan ISO/IEC 17024

 

 

Sertifikasi person memainkan peran yang sangat vital dalam berbagai sektor industri, baik industri manufaktur maupun industri jasa. Guna memenuhi kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi tertentu, Komite Akreditasi Nasional (KAN) telah mengoperasikan skema akreditasi untuk lembaga sertifikasi person. Dalam upaya untuk menembus akses tenaga kerja yang bukan hanya untuk kebutuhan pasar domestik namun juga untuk kebutuhan pasar tenaga kerja global, KAN telah berhasil meraih meraih Multilateral Recognition Arrangement (MLA) di forum Pacific Accreditation Cooperation (PAC) sejak dua tahun yang lalu. Dalam sidang APLAC/PAC Joint Annual Meetings yang diselenggarakan di Kyoto Jepang pada 1 - 9 Juni 2018 telah dibahas beberapa item terkait dengan akreditasi lembaga sertifikasi person. Salah satu yang menonjol adalah peranan lembaga sertifikasi person dalam memastikan kompetensi person.

Selengkapnya...
Sejarah Baru Terbentuknya Asia Pacific Accreditation Cooperation (APAC)

 

Mulai 1 Januari 2019 dunia akreditasi lembaga penilaian kesesuaian (LPK) di kawasan Asia Pasifik akan memulai hari baru dengan telah terbentuknya Asia Pacific Accreditation Cooperation (APAC). APAC merupakan gabungan dua organisasi kerjasama badan akreditasi LPK di kawasan Asia Pasifik, yaitu Asia Pacific Laboratory Accreditation Cooperation (APLAC) yang menangani akreditasi laboratorium dan lembaga inspeksi dan Pacific Accreditation Cooperation (PAC) yang menangani akreditasi berbagai jenis lembaga sertifikasi. Persetujuan pembentukan organisasi baru tersebut terwujud melalui voting oleh seluruh anggota APLAC dan PAC pada APLAC/PAC Joint Annual Meetings yang dilaksanakan di Kyoto Jepang pada tanggal 1-9 Juni 2018, tepatnya di Kyoto International Convention Center, sebuah tempat bersejarah dimana dilakukan penandatanganan Kyoto Protocol pada tahun 1997.  Di antara tujuan-tujuan yang lain, tujuan utama pembentukan APAC adalah untuk mempermudah konsolidasi dan memperkuat posisi oganisasi badan akreditasi di kawasan Asia Pasifik dalam menghadapi perubahan lingkungan strategis di kawasan internasional.

Dalam perjalanannya, organisasi APLAC yang penandatanganan MoU pembentukannya dilakukan di Jakarta 25 tahun yang lalu telah menghasilkan pengaturan saling pengakuan (mutual recognition arrangement / MRA) di antara badan akreditasi yang menjadi anggota untuk skema akreditasi laboratorium penguji, laboratorium kalibrasi, laboratorium medik, lembaga inspeksi, penyelenggara uji profisensi dan produsen baan acuan. Sampai Juni 2018, 39 dari 64 badan akreditasi anggota APLAC telah menandatangani APLAC MRA yang intinya adalah merealisasikan saling pengakuan hasil penilaian kesesuaian (sertifikat hasil uji, sertifikat kalibrasi, dll). Sementara itu organisasi PAC juga telah menghasilkan pengaturan saling pengakuan (multilateral recognition arrangement / MLA) untuk sertifikasi sistem manajemen, sertifikasi produk, sertifikasi person dan validasi/verifikasi gas rumah kaca. Sampai Juni 2018, 25 dari 34 badan akreditasi anggota PAC telah menandatangani PAC MLA. Seperti yang disepakati dalam APLAC MRA, PAC MLA juga memberikan kerangka saling pengakuan hasil sertifikasi di kawasan Asia Pasifik.

Selengkapnya...
Akreditasi KAN Mendukung Penerapan Monitoring-Reporting-Verification ICAO CORSIA Bagi Operator Penerbangan di Indonesia

Akreditasi KAN Mendukung Penerapan  Monitoring-Reporting-Verification ICAO CORSIA Bagi Operator Penerbangan di Indonesia

 

Kepedulian terhadap pengurangan emisi CO2 di dunia semakin gencar, salah satunya pengurangan emisi CO2 untuk penerbangan internasional yang menjadi salah program International Civil Aviation Organization dalam Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation (ICAO CORSIA) yaitu penerapan Monitoring-Reporting-Verification (MRV). MRV akan diberlakukan secara efektif mulai 1 Januari 2019 bagi operator pesawat udara yang melakukan penerbangan internasional, tak terkecuali bagi operator di Indonesia. Demi menjamin keakuratan data dan proses hasil MRV maka perlu dilakukan oleh lembaga verifikasi dan validasi yang kredibel, independen dan kompeten yang diakreditasi oleh  badan yang mempunyai saling pengakuan seperti Pasific Accreditation Cooperation (PAC) / International Accreditation Forum (IAF).

Selengkapnya...
Proses Akreditasi (Akreditasi, Reakreditasi, Survailen) Laboratorium, Lembaga Inspeksi, dan Penyelenggara Uji Profisiensi Melalui KANMIS

Sehubungan dengan proses akreditasi melalui aplikasi program online KAN-Management Information System (KANMIS), bersama ini kami informasikan hal-hal sebagai berikut:

Selengkapnya...
Pendaftaran Pelatihan Asesor Laboratorium Penguji

PENGUMUMAN PENDAFTARAN PELATIHAN ASESOR LABORATORIUM

ISO/IEC 17025 : 2017

KOMITE AKREDITASI NASIONAL TAHUN 2018

 

Dalam rangka pengembangan sumber daya asesor KAN yang kompeten, KAN membuka kesempatan bagi yang berminat dan berkecimpung di bidang pengujian dan standar, untuk mengikuti pelatihan asesor laboratorium penguji bidang-bidang sbb :

Selengkapnya...
Pertemuan LPK: Sosialisasikan Perkembangan Terkini Bidang Akreditasi

Komite Akreditasi Nasional (KAN) menyelenggarakan Pertemuan Teknis Laboratorium dan Lembaga Inspeksi di Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta Kamis (15/3/2018). Acara dihadiri kurang lebih 800 peserta.

Selengkapnya...
Akreditasi: Memastikan Kompetensi dan Membangun Kepercayaan

Untuk menyamakan persepsi dan informasi terbaru mengenai standardisasi dan penilaian kesesuaian, KAN mengadakan Pertemuan Teknis Laboratorium dan Lembaga Inspeksi di Hotel Novotel, Palembang (1/3/18)

Selengkapnya...
Refreshing Course Asesor dan Panitia Teknis Laboratorium Penguji dan Laboratorium Kalibrasi

Untuk menyosialisasikan ISO/IEC 17025:2017, KAN menyelenggarakan Refreshing Course Asesor dan Panitia Teknis Laboratorium Penguji dan Laboratorium Kalibrasi di Hotel Bidakara, Jakarta, (20/2/18)

Selengkapnya...
Pendaftaran Pemantauan Kinerja Laboratorium KAN/2018

Komite Akreditasi Nasional membuka pendaftaran Pemantauan Kinerja Laboratorium KAN/2018 untuk komoditi sebagai berikut :

Selengkapnya...
Keberterimaan akreditasi KAN untuk SME dan SMKI di PAC

 

Pada tanggal 14 Desember 2017, Komite Akreditasi Nasional (KAN) menerima pengakuan keberterimaan skema akreditasi Sistem Manajemen Energi (SME) dan Sistem Manajemen Keamanan Informasi (SMKI) dari Pacific Accreditation Cooperation (PAC) melalui penandatanganan saling pengakuan yang dikenal dengan istilah Multilateral Recognition Agreement (MLA). PAC merupakan forum badan akreditasi negara-negara di tingkat regional Pasifik.

Selengkapnya...

Keberterimaan dan Hubungan Kerja Sama

   

Powered by Komite Akreditasi Nasional 2016 - All Rights Reserved.