Beranda > News > Ketertelusuran dan Titik Kritis Asesmen Teknis Laboratorium Kalibrasi

Ketertelusuran dan Titik Kritis Asesmen Teknis Laboratorium Kalibrasi

Saat ini China dikenal sangat agresif dan sudah menguasai seluruh infrastruktur ekonomi dunia. Inti pokok masalahnya adalah karena daya saing produk Indonesia lemah, setidaknya kalah dari barang-barang China.  Daya saing tentu meliputi banyak faktor, seperti mutu, model, dan harga.  ASEAN Economic Community 2015 menyebutkan bahwa Laboratorium, lembaga sertifikasi dan lembaga inspeksi yang diakui adalah yang diakreditasi oleh badan akreditasi yang sudah MRA di APLAC dan PAC, di Indonesia adalah KAN (ASEAN Framework Agreement on MRA 1998). Setidaknya terdapat 12 Sektor Prioritas – ASEAN dari ASEAN Economic Community 2015, yaitu Pertanian, Perikanan, Produk kayu, Produk karet, Elektronika dan kelistrikan, Otomotif, Tekstil dan produk tekstil, E-ASEAN, Kesehatan, Turisme, Transportasi udara, dan Logistik. Saat ini terdapat tiga negara yang ekonominya saat ini sangat kuat yakni China, India, dan Korea, mereka membangun ekonomi dengan kekuatan Iptek melalui riset dan inovasi. Investasi Pendidikan dan riset mereka kuat, namun ketika mereka selesai membuat riset dan inovasi, mereka menyiapkan standar sebagai strategi ekonomi. Demikian ungkap Ketua KAN, Dr. Bambang Setiadi saat membuka acara Pembahasan Ketertelusuran dan Titik Kritis Asesmen Teknis Laboratorium Kalibrasi di Hotel Grand Sahid Jaya,  Jakarta.
Dalam rangka menginformasikan perkembangan terkini akreditasi laboratorium kalibrasi dan meningkatkan kualitas asesmen laboratorium kalibrasi, Komite Akreditasi Nasional (KAN) menyelenggarakan Pembahasan Ketertelusuran dan Titik Kritis Asesmen Teknis Laboratorium Kalibrasi pada Kamis – Jum’at (2/02/2012 – 3/02/2012). Diskusi teknis ini dihadiri oleh kurang lebih 30 orang asesor kepala KAN dengan menghadirkan beberapa narasumber seperti Agus Rusiawan, Anang Chusno T, Ghufron Zaid, Rakhmat Nugroho, Donny Purnomo, serta Agustinus Praba. Dr. Bambang juga menyampaikan beberapa contoh strategi standar yang diperankan oleh dunia internasional seperti: China membuat standardisasi sebagai strategi utama. Mereka merubah kata  “Made in China” menjadi “Assembled in China”. Brazil juga melakukan investasi besar-besaran di bidang standardisasi untuk menciptakan pasar global. Uni Eropa memanfaatkan standardisasi untuk merangsang inovasi. India menggunakan standardisasi untuk mengembangkan pendidikan. Selain itu WTO juga mengakui bahwa standardisasi sebagai cara untuk menciptakan keuntungan pasar. Sebagai mekanisme antisipasi, Indonesia perlu memperluas dan mempercepat SNI, menambah SNI Wajib, memperketat aturan yang diberlakukan negara lain tapi masih dalam koridor aturan internasional, menggunakan instrumen seperti standar, quota, label dan bahasa, serta melakukan pengawasan yang lebih ketat, ujar Dr. Bambang.
Beliau menambahkan bahwa Standar, Metrologi, Akreditasi dan Penilaian Kesesuaian merupakan pemain utama dalam peningkatan daya saing nasional. Dalam hal ini KAN memegang peran utama dalam mencapai pengakuan terhadap hasil penilaian kesesuaian sebagai pendukung pernyataan mutu produk nasional, dan Asesor KAN merupakan ujung tombak dalam menilai lembaga penilaian kesesuaian. Asesor diharapkan memiliki karakter yang adil, analitis, diplomasi, sabar, disiplin, terbuka, profesional, ingin tahu, komunikatif, netral, jujur dan berpengalaman. Dr. Bambang mengungkapkan bahwa kendala yang dihadapi saat ini oleh perusahaan dan industri antara lain seperti keakuratan alat standar yang kurang memadai pada  laboratorium sehingga hasil kalibrasi kurang berguna bagi pemakai alat dan dapat mempengaruhi mutu produk dan jasa; lambat dan lamanya waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan jasa kalibrasi oleh laboratorium eksternal. Hal ini menyebabkan tingkat produktivitas alat menurun; serta keragaman alat dan keterbatasan ruang lingkup mengakibatkan jasa kalibrasi harus dilaksanakan pada beberapa laboratorium yang berbeda, hal ini sangat tidak efisien. Apalagi saat ini di Indonesia hanya memiliki 148 laboratorium kalibrasi yang diakreditasi oleh KAN, dengan ruang lingkup yang sangat bervariasi, ada laboratorium dengan ruang lingkup mencakup 1 jenis alat ukur, dan hanya 3 laboratorium di Indonesia bagian timur.
Usai dibuka, Sekretaris Jenderal KAN, Drs. Suprapto, MPS langsung memberikan pengarahan terkait perkembangan dan informasi Akreditasi Laboratorium Kalibrasi. Beliau mengatakan bahwa dari 148 laboratorium kalibrasi hanya 132 laboratorium yang aktif. Mengenai layanan dan jenis laboratorium kalibrasi semakin bervariasi antara lain layanan kalibrasi pihak ke-3, laboratorium pemelihara standar ukuran metrologi legal, laboratorium kalibrasi  (peneraan) peralatan kesehatan, laboratorium kalibrasi peralatan uji dan inspeksi pemeliharaan pesawat, laboratorium kalibrasi penunjang jaminan mutu industry, laboratorium kalibrasi penunjang laboratorium uji, laboratorium kalibrasi multi-site, dan laboratorium kalibrasi field (temporary) – site.
Sebagai informasi terkini Drs. Suprapto menyampaikan beberapa hal diantaranya bahwa pada tahun 2012 ini akan dilakukan evaluasi APLAC pada bulan Juli. Terkait pengembangan penyedia Uji Banding Lab Kalibrasi mencakup termometer klinik, gauge block, meter air. Selanjutnya untuk proses asesmen awal, penambahan ruang lingkup dan reasesmen laboratorium kalibrasi sampai dengan akhir tahun 2011 rata-rata memerlukan waktu 1,8 bulan (permohonan sampai dengan on-site asesmen) + 4,5 bulan (on-site asesmen sampai dengan keputusan akreditasi).  Beliau juga mengungkapkan bahwa Hari Metrologi Dunia, 20 Mei 2012 akan diselenggarakan pada tanggal 21 Mei 2012. Sedangkan Pertemuan Teknis Laboratorium  Kalibrasi 2012 akan diselenggarakan pada bulan Juni 2012. Sampai dengan Desember 2011 telah dipublikasikan 6 Panduan Kalibrasi (KAN-GLK-XX), dan saat ini sedang dilaksanakan finalisasi. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa kebutuhan ketertelusuran pengukuran saat ini meliputi ketertelusuran untuk peralatan inspeksi, pemeliharaan dan pengujian sertifikasi kelaikan udara / airworthiness;  ketertelusuran untuk pengamanan fasilitas kesehatan/ medical devices; ketertelusran untuk peralatan Industri Manufaktur; serta ketertelusuran untuk penerapan SNI  Wajib (contoh : ketertelusuran untuk pengujian meter air, dll).
Sesi berikutnya dilanjutkan diskusi tentang kegiatan kalibrasi penunjang sektor penerbangan oleh Agus Rusiawan. Setelah ishoma, acara dilanjutkan dengan diskusi panel mengenai Titik kritis asesmen besaran kelistrikan dan temperatur yang disampaikan oleh Anang Chusno T dan Ghufron Zaid. Pada sore harinya dilanjutkan dengan diskusi tentang kegiatan kalibrasi sektor peralatan kesehatan dan kegiatan kalibrasi sektor metrologi legal dan penunjang industru yang disampaikan oleh Rakhmat Nugroho dan Donny Purnomo. Acara hari pertama diakhiri dengan diskusi tentang titik kritis asesmen besaran mekanik: calliper, micrometer, dial indicator, anak timbangan, pressure gauge, dan force testing mechine, yang disampaikan oleh Agustinus Praba dan Donny Purnomo. Pada hari kedua acara kembali dilanjutkan dengan penyampaian informasi dan diskusi untuk Peer Evaluasi APLAC, Juli 2012 serta diskusi dan umpan balik serta saran untuk peningkatan kinerja akreditasi laboratorium kalibrasi. (yuk)
Anda harus masuk log untuk mengirim komentar.
5 visitors online now
5 guests, 0 members
Max visitors today: 20 at 07:42 am UTC
This month: 39 at 04-10-2014 09:33 am UTC
This year: 114 at 02-21-2014 05:58 am UTC
All time: 114 at 02-21-2014 05:58 am UTC